Dalam Artikel Ini
Rangkuman Eksekutif dan Analisis Strategis
Peluncuran Qualcomm Snapdragon X2 Elite menandai transisi penting dalam pasar komputasi pribadi, terutama di segmen PC Windows berbasis Arm (WoA) yang fokus pada kecerdasan buatan (AI). Prosesor generasi kedua ini, dibangun di atas fondasi arsitektur Oryon yang diperkenalkan pada X1 Elite, dirancang untuk mengatasi hambatan kinerja dan efisiensi yang secara tradisional menghantui platform x86, sekaligus menantang dominasi efisiensi Apple Silicon. Laporan ini memberikan tinjauan teknis dan komparatif yang mendalam, menyoroti peningkatan arsitektur dan potensi strategis X2 Elite di pasar PC modern.
Poin-Poin Kunci dan Kesimpulan Strategis
Analisis teknis dan komparatif Snapdragon X2 Elite (X2E) menunjukkan beberapa poin kritis mengenai posisinya di pasar:
- Kepemimpinan CPU Diklaim: Varian tertinggi, Snapdragon X2 Elite Extreme (X2E-96-100), memanfaatkan proses 3nm dan arsitektur hibrida 18 inti untuk mencapai frekuensi boost dual-core hingga 5.0 GHz. Data benchmark menunjukkan kemampuan chip ini untuk mengungguli Apple M4 Pro dalam beberapa beban kerja multi-core yang intensif.
- Kepemimpinan AI yang Tak Tertandingi: Neural Processing Unit (NPU) Hexagon yang baru menawarkan kinerja luar biasa sebesar 80 Tera Operations Per Second (TOPS). Angka ini memberikan X2E keunggulan absolut dalam komputasi AI on-device, melampaui standar minimum Copilot+ PC dan 128% lebih cepat dari kompetitor iGPU terdekat, menjadikannya penentu kecepatan untuk fitur-fitur AI Microsoft di masa depan.
- Kesenjangan Grafis yang Persisten: Meskipun efisien secara daya, kinerja grafis mentah (GPU Adreno) terus menjadi titik lemah. Benchmark menunjukkan bahwa X2E tertinggal secara substansial, diperkirakan 37% hingga 46% di belakang Apple M4 Pro di beberapa tes 3DMark, membatasi daya saingnya di segmen gaming dan workstation kreatif high-end.
- Ekosistem WoA yang Matang: Microsoft telah merespons kebutuhan ekosistem dengan Prism, emulator yang sangat dioptimalkan. Prism secara efektif telah mengatasi sebagian besar kekhawatiran kompatibilitas aplikasi x86/x64, dan yang terpenting, X2E menawarkan konsistensi kinerja yang stabil saat berjalan pada daya baterai (DC power)—suatu keuntungan pengalaman pengguna yang kontras dengan penurunan kinerja signifikan pada platform x86.
- Hambatan Adopsi Awal: Adopsi X1 Elite generasi pertama masih sederhana, hanya menyumbang 0.8% dari seluruh pangsa pasar PC pada Kuartal 3 2024. Selain itu, tantangan ekosistem developer non-Windows, seperti dukungan driver Linux kernel, masih membutuhkan kematangan signifikan menjelang peluncuran X2E.
Visi Qualcomm: Dari X1 Elite ke X2 Elite sebagai Compute Platform
Snapdragon X2 Elite, yang dibangun di atas iterasi ketiga dari arsitektur CPU Qualcomm Oryon, diposisikan sebagai platform komputasi menyeluruh. Visi strategis Qualcomm dengan X2E adalah untuk menantang dominasi Intel dan AMD di pasar PC Windows, bukan hanya dari segi efisiensi daya, tetapi juga kinerja mentah.
Generasi pertama Oryon pada Snapdragon X Series memperkenalkan inti Prime cores yang memaksimalkan throughput dan efisiensi, serta berhasil menunjukkan keunggulan kinerja dan efisiensi dalam beban kerja komputasi modern. X2 Elite memperkuat klaim tersebut dengan pindah ke node proses 3nm dan mengintegrasikan peningkatan arsitektur besar-besaran, termasuk boost clock yang melampaui 5.0 GHz dan NPU 80 TOPS. Kombinasi kecepatan, kepadatan transistor yang lebih baik, dan spesialisasi AI ini diharapkan akan membuat X2E menjadi fondasi tak terhindarkan bagi Copilot+ PC masa depan.
Arsitektur Oryon Generasi Ketiga dan Spesifikasi Teknis (The Silicon Foundation)
Snapdragon X2 Elite mewakili perombakan signifikan dalam desain inti Oryon, beralih dari arsitektur homogen di generasi pertama ke desain hibrida yang menargetkan kinerja puncak dan efisiensi daya secara bersamaan.
Evolusi Arsitektur: Transisi ke Desain Hibrida Oryon Gen 3

Generasi pertama Snapdragon X Elite (X1E) dicirikan oleh penggunaan inti Oryon yang homogen, dengan konfigurasi hingga 12 inti identik yang menjalankan semua beban kerja. Sebaliknya, Snapdragon X2 Elite (X2E) beralih ke desain hibrida yang meniru pendekatan yang digunakan oleh pesaing x86 dan Apple, tetapi disesuaikan dengan Oryon Gen 3.
Arsitektur X2E kini membagi inti menjadi dua kategori:
- Prime Cores (Kinerja Tinggi): Ini adalah inti berkecepatan tinggi yang dirancang untuk throughput maksimum dan mencapai frekuensi boost ekstrem. Varian flagship X2E-96-100 memiliki 12 Prime Cores.
- Performance Cores (Efisiensi): Ini adalah inti berdaya rendah yang berfungsi untuk tugas latar belakang, meningkatkan efisiensi total chip dan memperpanjang masa pakai baterai. Varian X2E premium memiliki 6 Performance Cores.
Perpindahan ke desain 18-inti hibrida ini, dikombinasikan dengan manufaktur pada teknologi proses 3nm (dibandingkan 4nm pada X1E), adalah pendorong utama peningkatan efisiensi dan peningkatan kinerja transistor yang memungkinkan frekuensi sangat tinggi tercapai.
Varian Produk dan Spesifikasi Kunci X2 Elite (X2E)
Qualcomm memperkenalkan hierarki produk yang lebih bernuansa di bawah keluarga X2 Elite, dengan X2 Elite Extreme yang memimpin lini produk, di atas dua SKU X2 Elite “standar” lainnya.
Varian Prosesor Snapdragon X2 Elite
| Fitur Kunci | X1E (Referensi) | X2E-80-100 | X2E-96-100 (Extreme) |
| Node Proses | 4nm | 3nm | 3nm |
| Arsitektur CPU | 12 Inti (Homogen) | 12 Inti (6 Prime + 6 Performance) | 18 Inti (12 Prime + 6 Performance) |
| Frekuensi Boost Maksimal | 4.2 GHz (Dual-Core) | 4.7 GHz (Dual-Core) | 5.0 GHz (Dual-Core) |
| Frekuensi Prime Core All-Core | 3.8 GHz | 4.0 GHz | 4.4 GHz |
| Total Cache (Sistem) | Hingga 42 MB | 34 MB | 53 MB |
| NPU (AI) Performance | 45 TOPS | 80 TOPS | 80 TOPS |
| Transfer Rate Memori (MT/s) | 8448 MT/s | 9,523 MT/s | 9,523 MT/s |
| Bandwidth Maksimal | ~135 Gbps | 152 Gbps | 228 Gbps |
Analisis segmentasi chip menunjukkan bahwa, untuk varian X2E-80-100 yang lebih rendah, cache total dikurangi menjadi 34 MB, sebuah penurunan signifikan dibandingkan dengan pendahulunya X1E-80-100 yang memiliki 42 MB. Penurunan ukuran cache ini, meskipun X2E-80 menggunakan inti Gen 3 yang lebih baru, merupakan manuver strategis yang bertujuan untuk membedakan kinerja. Pengurangan cache dapat menyebabkan hambatan kinerja (bottleneck) dalam beban kerja yang sangat sensitif terhadap latensi dan memori. Hal ini secara efektif mendorong pengguna yang menuntut kinerja berkelanjutan untuk memilih varian yang lebih mahal (X2E-88-100 atau X2E-96-100) yang menyediakan cache 53 MB yang lebih besar, meskipun X2E-80 memiliki jumlah inti yang sama dengan SKU premium X1E.
Subsistem Memori, I/O, dan Multimedia
Peningkatan signifikan pada X2 Elite juga terlihat pada subsistem memori dan bus data untuk mendukung kebutuhan komputasi yang lebih tinggi:
- Memori LPDDR5x dan Bandwidth: X2 Elite tetap menggunakan memori LPDDR5x, tetapi kecepatan transfernya ditingkatkan secara substansial menjadi 9,523 Megatransfer per detik (MT/s), naik dari 8,448 MT/s pada X1 Elite. Peningkatan ini secara langsung meningkatkan bandwidth standar menjadi 152 Gbps.
- Bandwidth Ekstrem: Model flagship X2E Extreme (X2E-96-100) dilengkapi dengan bus memori 192-bit yang lebih lebar, memungkinkan bandwidth maksimum mencapai 228 Gbps. Peningkatan bandwidth sebesar 69% ini (dibandingkan X1E yang memiliki 135.2 GB/s atau ~135 Gbps) 11 adalah syarat mutlak, bukan sekadar fitur tambahan. Peningkatan kinerja NPU dari 45 TOPS menjadi 80 TOPS, serta penambahan inti CPU hingga 18, menghasilkan kebutuhan data yang masif. Kinerja NPU dan GPU pada arsitektur memori terpadu sangat bergantung pada bandwidth, sehingga langkah untuk meningkatkan bus menunjukkan pengakuan bahwa bandwidth X1E merupakan hambatan yang substansial, terutama untuk tugas AI dan grafis yang intensif.
- Kemampuan I/O dan Multimedia: Prosesor ini dibangun pada node proses 4nm , dengan dukungan I/O mencakup NVMe SSD melalui PCIe Gen 4, UFS 4.0, dan SD v3.0.12 Unit Pemrosesan Video (VPU) Adreno mendukung Decode hingga 4K120 10-bit untuk H.264, HEVC (H.265), VP9, dan AV1, serta Encode 4K60 10-bit untuk H.264, HEVC (H.265), dan AV1.
Analisis Kinerja Komparatif (CPU, GPU, dan NPU)
Pengujian benchmark klaim pabrikan menunjukkan bahwa Snapdragon X2 Elite telah berhasil mencapai tujuan kinerja CPU yang agresif, sekaligus memperkuat kepemimpinannya dalam AI, meskipun kesenjangan GPU tetap menjadi perhatian.



Kinerja CPU: Keunggulan Multi-Core dan Kecepatan 5.0 GHz
Qualcomm memposisikan X2 Elite Extreme (X2E-96-100) sebagai penantang langsung Apple M4 Pro. Strategi utama yang digunakan Qualcomm untuk mengejar pesaing adalah melalui kombinasi jumlah inti yang lebih besar dan frekuensi yang sangat tinggi. X2E Extreme adalah CPU Arm PC pertama yang mencapai boost clock hingga 5.0 GHz untuk dua inti.
Dalam beban kerja multi-core, benchmark yang dilakukan ComputerBase menunjukkan bahwa X2E Extreme (18 inti) mampu mengungguli Apple M4 Pro, mencetak 1.964 poin dalam Cinebench 2024 dan 23.693 poin dalam Geekbench 6.3 multi-core. Keunggulan ini mendukung klaim Qualcomm bahwa X2 Elite menawarkan kinerja multi-core hingga 75% lebih cepat daripada pesaing pada batas daya yang sama.
Namun, di kinerja single-core, yang sering kali didorong oleh Instructions Per Cycle (IPC), Apple M4 Pro mempertahankan keunggulan tipis, memimpin 7% dalam tes single-core Cinebench 2024. Meskipun X2E Extreme mampu mengimbangi atau bahkan sedikit unggul dalam Geekbench 6.5 single-core, penggunaan frekuensi 5.0 GHz dan inti 18-core yang tinggi oleh X2E adalah strategi “kekuatan kasar” untuk menutupi defisit IPC yang tipis terhadap Apple. Kinerja single-core pada M-series didorong oleh IPC tinggi dan manajemen daya superior. Untuk mengungguli M4 Pro di multi-core, X2E harus menggunakan frekuensi yang jauh lebih tinggi dan lebih banyak inti (18) dibandingkan Apple (12-14 inti), yang menunjukkan bahwa Apple mungkin masih memegang keunggulan dalam efisiensi performa per siklus clock.
Efisiensi Daya (Performance-per-Watt) dan Konsistensi
X-Series melanjutkan keunggulannya dalam efisiensi energi dibandingkan x86. Sebagai contoh perbandingan, varian X1E-78-100 memiliki Thermal Design Power (TDP) 23W, jauh lebih rendah daripada Apple M3 Max 14 Core yang memiliki TDP 78W. Meskipun demikian, Apple M-series masih diakui sebagai patokan efisiensi daya tertinggi dalam skenario penggunaan tertentu.
Keunggulan pengalaman pengguna yang paling signifikan adalah stabilitas kinerja (AC vs. DC). Analisis menunjukkan bahwa platform X-Series unggul dalam mempertahankan kinerja puncaknya saat berjalan pada daya baterai (DC). Kontrasnya, platform x86 Windows dapat mengalami penurunan kinerja hingga 50% saat dilepas dari pengisi daya. Konsistensi kinerja X-Series saat mobile menjadi kemenangan penting bagi PC berbasis Arm.
Kepemimpinan Komputasi AI: NPU 80 TOPS
NPU Hexagon 80 TOPS merupakan keunggulan kompetitif utama X2 Elite. Kapasitas ini hampir dua kali lipat dari X1 Elite (45 TOPS). Pengujian menunjukkan NPU X2 Elite Extreme tak terkalahkan, mencetak 128% lebih cepat daripada Intel Core Ultra 9 288V dalam benchmark AI. Kinerja 80 TOPS ini jauh melebihi persyaratan minimum 40 TOPS untuk Copilot+ PC, menjamin bahwa X2E siap untuk model AI lokal generasi berikutnya.
Selain NPU, arsitektur Oryon Gen 3 juga memperkenalkan instruksi Scalable Matrix Extension (SME) yang berfungsi untuk mempercepat beban kerja AI dan High Performance Computing (HPC) secara langsung pada inti CPU. SME dirancang untuk meningkatkan efektivitas CPU dalam operasi matriks berat, mengurangi hambatan, dan memungkinkan berbagai aplikasi AI berjalan efisien on-device.
Kinerja GPU Adreno: Titik Lemah yang Berlanjut
Kinerja GPU adalah area di mana X2 Elite masih menghadapi tantangan terbesar. Meskipun Qualcomm mengklaim peningkatan efisiensi daya (2.3x lebih baik performance-per-watt dibandingkan iGPU X1E) , kinerja grafis mentah X2E tetap berada di belakang Apple M4 Pro. Dalam tes 3DMark, X2E tertinggal 37% hingga 46% dari M4 Pro. X1 Elite sebelumnya hanya mampu bersaing dengan GPU Apple M2, bukan M3.
Kesenjangan GPU yang terus berlanjut ini menimbulkan risiko strategis, terutama karena Microsoft mendorong Copilot+ untuk beban kerja kreatif yang intensif. Meskipun NPU 80 TOPS menangani tugas AI, aplikasi profesional seperti pengeditan video dan pemodelan 3D sangat bergantung pada akselerasi GPU. Jika Adreno tidak dapat menyamai kapabilitas GPU M-series, pengguna profesional di segmen ini mungkin enggan beralih dari Apple atau laptop x86 kelas atas yang dilengkapi Discrete GPU (dGPU).
Namun, Qualcomm berupaya keras memperbaiki pengalaman gaming dan aplikasi melalui perangkat lunak. Perusahaan meluncurkan Snapdragon Control Panel untuk mendeteksi game, termasuk Steam library, dan memungkinkan pengguna mengoptimalkan pengaturan grafis (seperti super resolution dan anti-aliasing). Selain itu, ketersediaan downloadable graphics drivers memungkinkan pembaruan driver Adreno secara teratur, yang telah mencakup perbaikan untuk lebih dari 100 game sejak peluncuran X1E, termasuk perbaikan anti-cheat yang mendukung game populer seperti Fortnite.
Ekosistem Perangkat Lunak: Tumpuan Windows on Arm (WoA)

Keberhasilan Snapdragon X2 Elite di pasar sangat bergantung pada kematangan ekosistem perangkat lunak Windows on Arm (WoA), khususnya kemampuan Microsoft untuk menjalankan aplikasi x86/x64 yang diwariskan.
Emulator Prism: Optimasi untuk Snapdragon X Series
Microsoft telah mengatasi hambatan kompatibilitas dengan memperkenalkan emulator Prism di Windows 11 24H2. Prism dirancang sebagai simulator perangkat lunak yang menggunakan kompilasi Just-In-Time (JIT) untuk menerjemahkan blok instruksi x86 ke instruksi Arm64.
Fitur kunci Prism:
- Dukungan Penuh: Prism mendukung emulasi aplikasi x86 dan x64. Ini adalah peningkatan besar, mengingat Windows 10 WoA sebelumnya hanya mendukung emulasi x86 dan seringkali laggy.
- Optimasi Hardware: Prism dioptimalkan secara spesifik untuk prosesor Snapdragon X Series, memanfaatkan fitur perangkat keras unik pada seri X untuk meningkatkan kinerja dan mengurangi penggunaan CPU selama emulasi. Kinerja Prism, didukung oleh kekuatan mentah inti Oryon yang kuat, diharapkan sebanding dengan Rosetta pada Apple Silicon.
Status Dukungan Aplikasi Native dan Gaming
Upaya optimasi aplikasi telah menunjukkan hasil yang positif. Microsoft mengklaim bahwa aplikasi yang mencakup 90% penggunaan PC sehari-hari telah dikompilasi secara native untuk Arm, termasuk browser Google Chrome yang krusial, Adobe Photoshop, dan rangkaian Microsoft Office. Daftar aplikasi yang dioptimalkan untuk Snapdragon X terus bertambah luas.
Meskipun Prism memberikan solusi untuk aplikasi yang belum native, riwayat buruk Windows on Arm (seperti Windows RT dan Surface Pro X) menciptakan beban psikologis di benak konsumen. Pengguna awal WoA menghadapi kompatibilitas yang buruk dan kinerja lambat. Oleh karena itu, penerimaan pasar massal X2E akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan mulus pengalaman emulated di luar daftar aplikasi yang sudah native. Validasi berkelanjutan atas klaim bahwa “aplikasi berjalan dengan baik” sangat penting untuk membangun kembali kepercayaan.
Tantangan dan Roadmap Dukungan Linux
Di luar ekosistem Windows, dukungan perangkat lunak sumber terbuka menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Linux PC maker Tuxedo Computers secara resmi menghentikan proyek laptop X1 Elite-nya setelah 18 bulan bekerja, menyatakan bahwa chip generasi pertama terbukti “kurang cocok dari yang diharapkan” untuk Linux.
Hambatan yang dihadapi bersifat fundamental:
- Efisiensi Daya: Kegagalan mereplikasi masa pakai baterai yang unggul di Linux, salah satu argumen terkuat Arm.
- Dukungan Firmware dan Perangkat Keras: Tidak adanya pendekatan yang layak untuk update BIOS di bawah Linux, kurangnya dukungan untuk kontrol kipas (fan control), dan masalah dengan virtualisasi KVM.
- Fungsionalitas I/O: Masalah dengan fungsionalitas USB4 kecepatan tinggi dan kurangnya dukungan aplikasi untuk hardware video decoding, meskipun secara teknis didukung oleh chip.
Meskipun demikian, Qualcomm telah menjanjikan pekerjaan upstreaming kernel Linux yang signifikan untuk versi 6.10 dan 6.11, termasuk dukungan untuk GPU Adreno, manajemen daya (DCVS), kamera, dan membuat firmware tersedia secara terbuka. Namun, kegagalan Tuxedo pada X1E mengindikasikan bahwa komunitas developer Linux harus menunggu X2E, yang dijadwalkan H1 2026. Jika driver kernel yang dijanjikan (khususnya untuk power management dan GPU) tidak matang saat X2E diluncurkan, X2E berisiko mempertahankan segmentasi pasar yang terbatas (hanya Windows), mengurangi daya tarik jangka panjangnya di kalangan developer dan profesional IT yang sangat bergantung pada ekosistem sumber terbuka.
Posisi Pasar dan Proyeksi Adopsi
Strategi Peluncuran Copilot+ PC dan Kemitraan OEM

Snapdragon X2 Elite akan memasuki pasar sebagai fondasi utama gelombang kedua Copilot+ PC. Prosesor ini memenuhi persyaratan ketat Microsoft untuk komputasi AI on-device berkat NPU 80 TOPS.
Generasi X1 Elite telah meluncur dengan dukungan OEM yang luas, termasuk Microsoft Surface Pro 11th Edition, Dell XPS 13, Samsung Galaxy Book 4 Edge, ASUS Vivobook S 15, dan HP OmniBook/EliteBook. Dukungan ekosistem ini menunjukkan keseriusan OEM Windows dalam bertransisi ke arsitektur Arm yang efisien.
Penerimaan Pasar Awal X1 Elite
Meskipun didukung oleh OEM besar, penerimaan pasar awal untuk X1 Elite cukup sederhana. Data pangsa pasar untuk Kuartal 3 2024 menunjukkan bahwa perangkat bertenaga Snapdragon X menyumbang sekitar 720.000 unit, yang setara dengan hanya 0.8% dari total PC yang terjual, atau kurang dari 1.5% dari pasar Windows.
Faktor-faktor yang menghambat adopsi awal meliputi penetapan harga premium (sebagian besar di atas $1.000), kurangnya transparansi model SKU (dengan perbedaan kinerja besar antar varian X1E), dan kekhawatiran konsumen yang tersisa mengenai kompatibilitas dan kinerja aplikasi emulasi.28
Proyeksi Kompetitif Menjelang Peluncuran X2 Elite (H1 2026)
Peluncuran X2 Elite Extreme diperkirakan pada paruh pertama tahun 2026. Periode ini penuh dengan risiko kompetitif.
- Risiko Respon x86: Intel dan AMD tidak tinggal diam dan diperkirakan akan meluncurkan chip yang sangat kompetitif, berfokus pada peningkatan NPU dan efisiensi daya. X2E harus menunjukkan keunggulan yang jauh lebih besar dalam kinerja dunia nyata (bukan hanya klaim performance-per-watt) untuk membenarkan konsumen beralih dari warisan x86.
- Persaingan Apple M-Series: Kedatangan chip Apple M5 atau M6 kemungkinan akan terjadi bersamaan dengan peluncuran X2E. Hal ini berpotensi memperluas kembali kesenjangan di sektor GPU dan efisiensi daya, menantang klaim performa puncak X2E. Jika Apple berhasil meningkatkan kembali IPC CPU-nya dan mempertahankan keunggulan GPU yang signifikan, X2E mungkin hanya akan mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin NPU, bukan sebagai chip komputasi serbaguna yang unggul.
Kesimpulan
Snapdragon X2 Elite Extreme (X2E-96-100) adalah platform komputasi yang secara teknis sangat mumpuni. Perangkat ini berhasil mencapai tujuan kinerja CPU multi-core yang agresif dan memimpin pasar dalam kemampuan AI on-device dengan NPU 80 TOPS. Peningkatan arsitektur inti hibrida, proses 3nm, dan bandwidth memori 228 Gbps pada varian Extreme, semuanya menunjukkan bahwa Qualcomm telah secara strategis mengatasi hambatan utama X1 Elite.
Meskipun X2 Elite telah mengubah perdebatan kinerja Windows PC dari efisiensi ke kinerja mutlak, dua area kunci akan menentukan kesuksesan jangka panjangnya:
- Ekosistem Non-Windows: Kegagalan transisi X1 Elite ke Linux karena masalah firmware dan power management tingkat rendah mengharuskan Qualcomm untuk secara cepat memenuhi janji upstreaming driver kernel X2E. Tanpa dukungan developer yang kuat dan ekosistem Linux yang stabil, X2E akan membatasi daya tariknya hanya pada basis pengguna Windows, yang berpotensi mengurangi momentum adopsi jangka panjang.
- Kesenjangan Grafis: Selama X2 Elite mempertahankan defisit kinerja GPU yang besar terhadap Apple M-series, pengguna profesional di bidang kreatif akan cenderung memilih Apple atau platform x86 yang menawarkan dGPU yang kuat. Qualcomm perlu memprioritaskan peningkatan unit grafis Adreno lebih dari sekadar efisiensi daya untuk bersaing secara menyeluruh di segmen premium.
X2 Elite adalah platform yang sangat penting; kematangannya akan sangat bergantung pada seberapa cepat Microsoft dapat memastikan pengalaman emulated yang sempurna dan seberapa matang dukungan low-level yang dapat diberikan Qualcomm kepada komunitas developer di luar Windows.
