Saham Intel Melejit 23,65% Usai Proyeksi Lampaui Ekspektasi
Saham Intel Corp. melonjak 23,65 persen pada perdagangan Jumat, 25 April 2026, setelah produsen chip asal Santa Clara, California, merilis perkiraan pendapatan kuartal kedua yang jauh melampaui ekspektasi Wall Street. Kenaikan tersebut membawa harga saham ke level tertinggi intraday sekitar 85 dolar AS, melampaui puncak era dot-com tahun 2000, menurut data Dow Jones Market Data yang dikutip Barron's. Lonjakan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Intel melaporkan laba kuartal pertama yang mengalahkan konsensus analis secara signifikan.
Perkiraan pendapatan yang kuat itu berhasil mendorong indeks acuan Amerika Serikat ke wilayah rekor. Menurut Wall Street Journal, reli Intel yang berlangsung cepat ikut mengangkat S&P 500 dan Nasdaq Composite ke penutupan tertinggi baru pada Jumat, di saat investor mengabaikan ketegangan geopolitik dan kembali memburu saham teknologi. MarketWatch mencatat saham Intel melonjak 23,6 persen setelah mengalahkan estimasi laba, sekaligus mencetak rekor sepanjang masa dan membantu mendorong reli tajam sektor teknologi di S&P 500.

Kinerja kuartal pertama menjadi pemicu utama. Intel membukukan pendapatan 13,58 miliar dolar AS, naik 7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya dan mengalahkan konsensus analis sebesar 12,42 miliar dolar, menurut ringkasan TradingNews. Laba per saham yang disesuaikan tercatat 0,29 dolar, jauh di atas estimasi 0,01 dolar. Segmen Data Center and AI (DCAI) menjadi motor pertumbuhan dengan pendapatan naik 22 persen menjadi 5,1 miliar dolar dan margin operasi 30,5 persen, didorong kemenangan desain Xeon 6 di server Nvidia DGX Rubin, Google, dan SambaNova.
Untuk kuartal kedua, manajemen memperkirakan pendapatan berada di kisaran 13,8 miliar hingga 14,8 miliar dolar. Angka itu menghancurkan konsensus analis di 13,03 miliar dolar, menurut Reuters. Perusahaan juga menaikkan panduan laba yang disesuaikan menjadi 20 sen per saham, naik dari 10 sen pada kuartal pertama, dengan alasan permintaan CPU server yang kuat dan ekspansi pasokan. Proyeksi tersebut langsung diterjemahkan pasar menjadi aksi beli agresif.
Konteks Penting di Balik Lonjakan Permintaan Chip AI
Lonjakan Intel tidak terjadi dalam ruang hampa. Permintaan dari perusahaan kecerdasan buatan disebut begitu kuat sehingga Intel bahkan menjual chip yang sebelumnya telah dihapus dari pembukuan, menurut laporan Inshorts yang mengutip pernyataan perusahaan. Praktik penjualan inventaris yang sebelumnya di-write-off menunjukkan ketatnya pasokan di pasar dan urgensi pelanggan untuk mendapatkan kapasitas komputasi tambahan.
Menurut Wall Street Journal, Intel melaporkan penjualan yang lebih tinggi dan permintaan yang sangat besar dari pusat data untuk unit pemrosesan pusat, atau CPU. Berbeda dengan narasi dominan tentang GPU, data ini menegaskan bahwa CPU berperforma tinggi tetap krusial untuk beban kerja inferensi AI dan orkestrasi sistem. Kemenangan desain di platform Nvidia dan Google memberi validasi penting bagi arsitektur Xeon generasi terbaru, yang selama dua tahun terakhir tertinggal dari pesaing.
Konteks geopolitik turut membantu. Harga minyak mentah WTI turun 0,9 persen menjadi 94,98 dolar per barel pada hari yang sama karena harapan pembicaraan damai AS-Iran, menurut catatan Barron's. Penurunan biaya energi mengurangi kekhawatiran inflasi dan memberi ruang bagi investor untuk kembali ke aset berisiko. Di saat yang sama, Departemen Kehakiman AS menghentikan penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang menghapus ketidakpastian kebijakan moneter jangka pendek.
Reli Intel juga didukung narasi pemulihan fundamental. CEO Lip-Bu Tan, yang mengambil alih pada akhir 2024, menjalankan rencana turnaround yang berfokus pada manufaktur dalam negeri dan kemitraan strategis. Menurut The Times, Tan berhasil mengamankan kesepakatan pemerintah dan investasi untuk meningkatkan produksi, serta menjadikan Tesla sebagai pelanggan utama pertama untuk teknologi proses 14A generasi berikutnya. Langkah itu dipandang pasar sebagai bukti bahwa Intel mulai merebut kembali kredibilitas teknologi.
Rincian yang Belum Diumumkan Publik
Meski angka utama telah disampaikan, sejumlah rincian penting masih ditunggu publik. Hingga akhir pekan lalu, Intel belum merinci secara terbuka berapa persentase pertumbuhan pendapatan DCAI yang berasal dari penjualan chip yang sebelumnya dihapus buku. Informasi tersebut penting untuk menilai kualitas pendapatan, karena penjualan inventaris lama biasanya memiliki margin berbeda dibanding produk baru.
Perusahaan juga belum menjelaskan asumsi harga rata-rata (ASP) yang mendasari panduan kuartal kedua sebesar 13,8 hingga 14,8 miliar dolar. Analis ingin mengetahui apakah proyeksi tersebut mengasumsikan kenaikan harga akibat kelangkaan, atau volume yang lebih tinggi dengan harga stabil. Tanpa rincian itu, sulit memodelkan keberlanjutan margin operasi 30,5 persen di segmen data center.
Selain itu, Intel belum mengumumkan rencana belanja modal (capex) yang diperbarui untuk 2026. Pada Januari, perusahaan memperkirakan belanja modal di atas 20 miliar dolar, namun permintaan yang melonjak bisa memaksa percepatan investasi pada pabrik di Arizona dan Ohio. Hingga kini belum ada rincian resmi tentang apakah panduan baru akan disertai peningkatan capex, atau apakah perusahaan akan mengandalkan mitra foundry eksternal untuk memenuhi lonjakan.
Informasi mengenai keberlanjutan kontrak dengan Nvidia, Google, dan SambaNova juga terbatas. Pasar belum mengetahui durasi kontrak, volume komitmen, maupun klausul eksklusivitas. Hal serupa berlaku untuk kesepakatan dengan Tesla terkait proses 14A, yang menurut The Times baru diumumkan sebagai pelanggan pertama tanpa nilai kontrak.
Dampak Berantai ke Sektor Semikonduktor
Kenaikan Intel memicu efek domino di seluruh sektor chip. Menurut Wall Street Journal, Nasdaq melonjak 1,6 persen pada Jumat, dengan saham chip memainkan peran utama; Nvidia naik lebih dari 4 persen sementara AMD melonjak 14 persen. Indeks Semikonduktor PHLX bahkan memperpanjang reli menjadi delapan belas sesi berturut-turut, mencatatkan winning streak terpanjang dalam sejarah data yang tersedia, menurut Dow Jones Market Data yang dikutip Barron's.
S&P 500 naik 0,7 persen ke 7.157 dan Nasdaq naik 1,5 persen ke 24.796, keduanya menandai penutupan rekor, sementara Dow Jones justru turun 160 poin atau 0,3 persen. Barron's mencatat Dow tertinggal karena indeks tersebut mengganti Intel dengan Nvidia pada 2024 dan tidak memiliki eksposur ke saham chip besar lainnya. Perbedaan kinerja ini menegaskan betapa terpusatnya reli tahun ini pada tema AI.
Investor ritel juga ikut masuk. Menurut MarketBeat, saham Intel diperdagangkan naik 22,8 persen ke 32,38 dolar dalam satu sesi sebelumnya, meski pandangan analis masih beragam dengan target konsensus 22,20 dolar. Volume perdagangan pada Jumat mencapai lebih dari tiga kali rata-rata 30 hari, menunjukkan minat spekulatif yang tinggi. Beberapa analis memperingatkan bahwa saham kini diperdagangkan pada kelipatan laba forward sekitar 92 hingga 117 kali, menurut TradingNews dan Barron's, level yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Intel.
Peran Kepemimpinan Baru dan Strategi Turnaround
Kebangkitan Intel tidak lepas dari perubahan kepemimpinan. Lip-Bu Tan, veteran industri modal ventura semikonduktor, diangkat sebagai CEO setelah periode pergantian eksekutif yang bergejolak. Menurut Investors.com, Tan menekankan pertumbuhan yang didorong AI dan prioritas strategis pada manufaktur domestik. Ia berhasil mengamankan investasi 8,9 miliar dolar dari pemerintah AS serta 5 miliar dolar dari Nvidia, menurut laporan WebProNews sebelumnya.
Strategi Tan berbeda dari pendahulunya. Alih-alih mengejar semua segmen, Intel memfokuskan sumber daya pada CPU server berperforma tinggi dan layanan foundry untuk pelanggan eksternal. Kemenangan desain Xeon 6 di DGX Rubin milik Nvidia menjadi simbol perubahan persepsi: dari pesaing yang tertinggal menjadi mitra penting dalam ekosistem AI. Menurut TradingNews, margin operasi DCAI yang mencapai 30,5 persen menunjukkan disiplin biaya setelah bertahun-tahun mengalami erosi margin.
Pemerintah AS juga menjadi faktor. Dukungan dana CHIPS Act memungkinkan Intel mempercepat pembangunan pabrik di Arizona tanpa membebani neraca secara berlebihan. Menurut Reuters, Intel juga mendapat manfaat dari investasi pemerintah yang meningkatkan kepercayaan pelanggan strategis seperti Tesla, yang membutuhkan pasokan chip yang aman secara geopolitik untuk kendaraan otonom dan robot humanoid.
Risiko Valuasi di Tengah Euforia
Meski euforia meluas, sejumlah peringatan muncul. Saham Intel kini telah lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, menurut Wall Street Journal, dan valuasinya terhadap laba proyeksi berada pada rekor tertinggi. TradingNews mencatat forward P/E sekitar 117 kali, jauh di atas rata-rata historis sektor semikonduktor di kisaran 20-25 kali. Pada level tersebut, pasar mengasumsikan pertumbuhan laba yang sangat agresif selama dua tahun ke depan.
Analis juga menyoroti risiko eksekusi manufaktur. Proses 14A yang akan digunakan untuk Tesla masih dalam tahap awal, dan Intel memiliki sejarah keterlambatan node. Jika produksi tidak mencapai yield yang diharapkan, margin bisa tertekan meskipun permintaan tetap tinggi. Selain itu, ketergantungan pada penjualan inventaris yang sebelumnya dihapus buku tidak dapat diulang tanpa batas.
Dari sisi makro, reli terjadi di tengah harga minyak yang masih tinggi di atas 94 dolar per barel dan ketegangan di Timur Tengah yang belum reda. MarketWatch mencatat S&P 500 dan Nasdaq masing-masing membukukan kenaikan mingguan keempat berturut-turut, melanjutkan pemulihan April setelah kerugian Maret yang dipicu konflik Iran. Jika negosiasi damai gagal, rotasi keluar dari saham pertumbuhan bisa terjadi cepat.
Ke depan, pasar akan menguji apakah Intel dapat mengubah lonjakan permintaan sesaat menjadi pertumbuhan struktural. Perusahaan perlu menunjukkan bahwa kemenangan desain dengan Nvidia dan Google akan berlanjut ke generasi chip berikutnya, bahwa margin DCAI dapat dipertahankan di atas 30 persen, dan bahwa belanja modal besar tidak akan menggerus arus kas bebas. Jika Intel berhasil memenuhi panduan kuartal kedua di kisaran atas 14,8 miliar dolar dan memberikan visibilitas hingga 2027, reli ini bisa menjadi awal kembalinya raksasa chip tersebut ke puncak industri, bukan sekadar pantulan teknikal dari level terendah historis.
